BLOGNYANGGA -Blognya Tante Angga-

NgeBloglah sebelum Ngeblog dilarang...

Friday, February 01, 2013

Dana Pendidikan Anak

Ayla, anak kami baru berusia 17 bulan. Artinya, paling sedikit 3 tahun lagi dia akan sekolah TK. 3 tahun itu masih lama ya... tapi kalau membayangkan 3 tahun itu kami dalam kondisi masih mencicil rumah dan mobil, sepertinya masalah dana pendidikannya juga harus dipikirkan dari sekarang. Belum lagi kalau nantinya Ayla punya adik, gimana dong ...

Ah belum kejadian aja udah paranoid. Enggak, ini bukan parno tapi ini perencanaan. Niatnya ingin menyekolahkan Ayla di sekolah yang baik dan tentunya harus dibarengi dengan ikhtiar yang baik serta berdoa selalu agar dimudahkan. Teringat akan ucapan seorang teman yang bilang “Pendidikan adalah investasi paling minim dengan hasil paling maksimal” juga ucapan seorang financial planner yang bilang “Jangan sampai penghasilan orangtua menjadi penghalang bagi cita-cita anak”. Dalem yah?

Dulu, saya sempat bersekolah di SD Negeri dan di SD Swasta. Dari kelas 1 sampai kelas 3 di SD Negeri baru kelas 4 pindah ke SD Swasta. Terasa benar perbedaannya. Dari pengalaman itu saya mendapatkan kesimpulan bahwa di lingkungan sekolah yang baik, anak dapat tumbuh berkembang dengan baik dan bisa melanjutkan ke sekolah yang baik juga. Jadi inget waktu SMP kok berasa cuma pindah kelas saja karena teman-temannya ya itu-itu aja.


 Suatu hari setelah membaca bukunya Ligwina Hananto dan melihat kenyataan bahwa dana pendidikan itu setiap tahunnya terinflasi sebanyak 15-20%, saya kaget. Misal uang pangkal 5 juta tahun 2013 ini, di tahun 2017 saat Ayla mau masuk SD UP-nya akan menjadi 8,75 sampai 10 juta. Itu baru uang pangkalnya aja. SPP dan lain-lainnya? Kalau melihat gaji kan palingan naik setahunnya Cuma 10%. Tenaaaang kan ada gaji ke-13? Iya mudah-mudahan ada terus yaa... Iseng-iseng saya bikin status di facebook, bagaimana cara Anda menyiapkan dana pendidikan anak? Dengan menabung, investasi atau Anda tidak begitu memikirkan, semengalirnya saja. Jawaban teman-teman bisa dilihat disini:

Lalu, saya juga menanyakan soal berapa sih Uang Pangkal dan biaya sekolah anak SD? Jawabannya bisa dilihat disini:


 Kalau melihat jawaban teman-teman yang sudah berpengalaman menyekolahkan anaknya di SD, kaget! Iyaaaa, kalau di SD negeri mah gratis uang pangkal, tidak ada SPP. Tapi kalau ada Orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya di SD Swasta, gak apa-apa kan? Suami saya pun pinginnya Ayla bersekolah di SD Negeri saja. SD Negeri juga banyak yang berkualitas. Tapi tidak ada salahnya juga kan mempersiapkan dana pendidikan untuk ke sekolah swasta? Kalaupun Ayla masuk SD Negeri, nanti dananya bisa dialihkan untuk tujuan finansial yang lain, bisa juga untuk dana sekolah SMP-SMA dan kuliahnya. Syukur-syukur kalau masuk SD Negeri, SMP dan SMA Negeri unggulan dan masuk universitas negeri. Syukur-syukur bisa dapat beasiswa. Tapi kita sebagai orangtua harus tetap berkewajiban menyekolahkan, menyiapkan dananya  Saya googling tentang mempersiapkan dana pendidikan anak dan menemukan blog ini.


 Jadi setelah baca-baca, langkah yang saya dan suami harus kami lakukan adalah: 1. Memilih sekolah mana yang cocok untuk Ayla. Walaupun Ayla-nya sendiri sekolahnya masih lama tapi setidaknya kami sudah punya bayangan. 2. Mengetahui berapa kisaran uang pangkalnya dan biaya lainnya. Ini maksudnya biar tahu berapa pengeluaran rutin per-bulan dan belum lagi biaya tidak terduga lainnya. 3. Mempersiapkan biayanya. Pertama, setelah mendapatkan kisaran dana pendidikan SD selama 6 tahun kita pikirkan biayanya apakah dengan menabung (kata ligwina: menabung saja tidak cukup!), investasi atau lainnya. Setelah terkumpul biaya sekolah SD, mulai memikirkan biaya SMP, SMA dan seterusnya.



 Hmm... jadi teringat dengan kakak ipar yang bilang dana pendidikan anak pertamanya sudah tercapai, tinggal adiknya. Ayo semangat semangat! Kita persiapkan dana pendidikan anak kita yuk!

Thursday, January 10, 2013

RESOLUSI 2013

RESOLUSI 2013 Resolusi. Ah kayaknya hampir tiap tahun ya bikin resolusi hehe. jadi inget deh zaman tahun 2008 sampai 2010 resolusi gw adalah: menikah. Alhamdulillah 2 Okt 2010 kesampaian hehe... jadi inget juga tahun 2009 bikin apa tuh namanya, zaman dulu blogger suka dapet PR, dan nge PR-rin lagi ke blogger lainnya. Seru... nah di akhir tahun 2008 itu gw bikin PR: 9 resolusi di 2009 dan ngePRrin lagi ke 9 blogger lainnya... dari sini gw kenal blogger seperti Adit (Praditya Kusworo), Essy bersaudara (Nila dan Nieke), mang Ojat, mang Temon dll... 2011 resolusinya adalah punya anak dan Alhamdulillah diijabah doanya. 2012 resolusinya malah gak bikin. Eh bikin deng, yaitu: gak punya utang. Yah tentu aja gak kesampaian ahahahah... 2013 ini resolusi gw yaitu: sekota dengan suami. Titik. Kita punya prinsip, sebelum anak sekolah itu harus sekota dan mulai nyicil rumah. Wallahualam deh duit untuk DP rumah hehe. Tapi dimana ada niat baik pasti ada jalan. Insya Allah. Sampai saat ini kemajuannya adalah gw sudah dapet acc Kepala Dinas. Tinggal Walikota dan Gubernur. Mohon doanya yaaaa... Kalau kamu, resolusinya apa?

Monday, January 07, 2013

Hai Hai...

Hai-hai blogger... lammmaaaaa banget ya, ternyata gw gak nulis blog. terakhir itu 23 Juni 2012. Ya ampuuun itu kan 6 bulan yang lalu. Kemana aja? ada kok, gentayangan di fesbuk ahahaha. Banyak faktor gw jarang blogging, eh tapi kok eksiss banget di fesbuk? hehe kalo fesbukan kan bisa dari hape doang. Hapenya emang gak canggih bo. Bisanya cuma buat nelpon, sms, moto, fesbukan aja. Lagipula warnet tetangga gw udah tutup lama. sempurnalah sudah *halah, bahasa* Apa yang terjadi antara tahun 2010 sampai 2012? wooow banyak banget. Setelah gw menikah dengan Abang ganteng tgl 2 Oktober 2010, 2 bulan kosong Alhamdulillah langsung hamil lalu melahirkan tgl 24 Agustus 2011. Anak gw namanya Ayla. Nama lengkapnya Azayaka Maylaf Pasha. Lahirnya Ayla membuat gw jadi Ibu *yaeyalah, pletak!* dan makin sibuk aja gw. Pernah juga gw nyobain masuk sini eh passwordnya salah ahahahah. Saking sering ganti password. Daaaan setelah hampir frustasi, akhirnya gw bisa juga masuk dengan password lama. Ternyata buat blog emang gw gak pernah ganti password :P Sekarang udah 2013 aja yah. Niatnya sih pengen diseriusin ngeblog biar gak keciri pisan tampil di fesbuknya. Alhamdulillah Abang ganteng udah menyediakan fasilitasnya ekarang... Yasud segitu dulu yah. Lama gak nulis jadi kaku... bingung juga apa yang mau ditulis nih. Dadah semuaaa....

Saturday, June 23, 2012

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Oleh : Tere Liye GM 401 01 12 00 55 PT Gramedia Pustaka Utama, Januari 2012 512 halaman, Rp. 72.000,- Libur telah tiba! Bagi kalian yang gemar membaca, Novel karya Tere Liye selanjutnya saya singkat menjadi KAdSAM ini layak masuk dalam daftar baca. Dijamin gak nyesel,deh ! Ini adalah kisah Borno, pemuda asal tepi Kapuas berusia 22 tahun. Borno yang sudah yatim sejak usia 12 tahun hanya tinggal berdua dengan Saijah, Ibunya. Bapak, nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga terjatuh dari perahu saat melaut dan tersengat ubur-ubur hingga membuat kejang seketika. Hanya soal waktu detak jantung Bapak akan berhenti. Dan sebelum tubuhnya benar-benar berhenti Bapak menyetujui untuk mendonorkan jantungnya pada pasien gagal jantung yang sudah berminggu-minggu mencari donor. Mengharukan. Kemudian Borno tumbuh menjadi pemuda sederhana, baik hati dan nasib yang hanya lulusan SMA membuatnya sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Mulai dari kerja di pabrik karet, gagal kerja di pabrik sarang burung walet, jadi pemeriksa karcis, jadi petugas SPBU hingga pekerjaan ‘remeh’ macam perbaiki genteng atau mencari kucing hilang pun sudah pernah ia lakoni. Berganti-ganti profesi hingga akhirnya ia menjadi pengemudi sepit walau harus melanggar wasihat Bapak : Jangan jadi pengemudi sepit, seperti Bapak dulu. Kalian tahu sepit? Ya, plesetan dari speed. Perahu kecil yang panjangnya 5 meter dan lebar 1 meter dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Walau hati Borno galau karena telah melanggar wasiat, ia teringat petuah Pak Tua, kawan karib almarhum ayahnya itu, “Bahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia Borno, sepanjang kau lakukan dengan tulus.” Ini juga kisah tentang si sendu menawan yang dilihat Borno pertama kali mengemudi sepit. Gadis berwajah sendu seperti artis negeri jiran dengan rambutnya yang tergerai panjang, berbaju kurung kuning dan membawa payung tradisional bewarna merah. Siapakah ia? Asal muasal cerita adalah saat Borno menemukan angpau merah tercecer di sepitnya. Ia menebak pastilah punya si sendu menawan. Borno berusaha mengembalikannya, seminggu penuh menghafal aktivitas berangkat pagi gadis itu. Dan ternyata saat Borno melihatnya gadis itu sedang membagi amplop merah yang sama kepada anak-anak SD. Angpau yang biasa saja, pikir Borno. Apalagi si sendu menoleh dan berkata: “Abang mau terima angpau juga?” Ternyata tepat seminggu setelahnya si sendu menawan tepat naik sepit Borno.Namun sayang mereka tidak sempat mengobrol, malah Borno yang curi-curi dengar percakapan gadis itu dengan penumpang lain.Ternyata gadis itu seorang guru di sebuah yayasan. Kebetulan yang menyenangkan karena di hari yang sama, ia bertemu lagi siangnya saat mengantar rombongan turis ke Istana Kadariyah. Gadis itu sedang mengantar pejabat yayasan dari Jakarta yang sedang berkunjung. Setelah berbasa-basi sebentar gadis itu mengajukan pertanyaan yang membuat Borno gugup. “ Seberapa sulit mengemudikan sepit, Abang? ‘’ “ Abang mau mengajari ?” Prikitiw. Dua jam mengajari sepit, Bormo malah lupa bertanya nama gadis itu. Dan saat bertemu lagi dengan sebelumnya berbasa-basi menceritakan lelucon soal nama orang yang merujuk nama bulan, si sendu menjawab: "Namaku Mei, Abang. Meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak menertawakannya” Mei ternyata tidak marah dengan lelucon itu malahan membuatnya bertambah dekat dengan Borno. Tetapi saat getar-getar cinta itu terasa, Mei malah berniat pulang ke Surabaya dan tidak tahu kapan akan kembali ke Pontianak. Disaat yang sama itu, Pak Tua sakit dan Borno yang mengurusnya. Waktu berlalu, Mei tidak memberi kabar. Namun secercah harapan datang. Pak Tua akan melanjutkan terapi ke Surabaya. Bisakah Borno menemukan Mei? Apakah Angpau yang ditemukan Borno itu hanya angpau biasa? Ah pokoknya seru! Novel KAdSAM ini sangat enak dibaca. Kata-kata yang di gunakan sangat mengalir. Penokohannya pun kuat. Kita seperti sedang ada didekat Borno. Kita bisa ikut merasakan kehidupan masyarakat tepi sungai Kapuas dan ikut merasakan serunya naik sepit. ‘Arwah penasaran‘ akan jalan cerita Borno dan Mei dijaga dengan baik dan kita tidak dibuat bosan karena banyak cerita lucu sepanjang novel ini. Tengoklah bagaimana Bang Togar sebagai ketua PPSKT ( Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta) memelonco Borno sebagai calon pengemudi sepit. Lalu, cerita Borno diboikot orang sekampung karena menjadi petugas pemeriksa karcis kapal Feri (Ya, Feri dianggap ‘merampas’ lahan mata pencaharian pengemudi sepit), serunya lomba sepit juga kisah Bang Togar sendiri yang menurut saya dramatis. Saya juga senang membaca tentang rasa kekeluargaan dalam novel ini dari tokoh Koh Acong, Cik Tulani, Jauhari dan Jupri sesama pengemudi sepit, Andi dan Daeng, bapaknya (yang turut mengubah nasib Borno selanjutnya) dan juga yang favorit pisan lah, petuah-petuah dari Pak Tua. Selain itu, pemilihan kata-katanya itu indah. Saat Borno rindu, saya pun seakan ikut merasakan rindunya. Seperti contoh ini. “Mei, apa yang kau lakukan ribuan kilometer disana? lihatlah aku sedang berusaha tidur, memperhatikan seekor cicak yang dari tadi merangkak-rangkak mengincar nyamuk di dekatnya.” “Mei, enam bulan sudah aku tidak tau kabarmu. Sedang apa kau sekarang? Sibuk? Tidur? Aku sedang mendengar suara penjual bakso keiling di gang sempit di tepian kapuas.” Hiks hiks. Inget suami yang beda kota. Upps #curcol  Haduuh, gatel pengen kasih tahu akhir ceritanya. Tapi pasti kalian nanti jadinya gak beli novelnya. Setelah membaca, hati saya menjadi lega dan senang walaupun disepertiga akhir cerita, masuklah tokoh dr gigi Sarah yang membuat galau tetapi berakhir manis. Tentang pengarangnya? Tere Liye adalah nama pena dari Bang Darwis. Kalian punya profilnya? Sudah dicari tapi saya belum menemukannya  Tere Liye ini sangat produktif menulis novel dan ada fanspagenya di Facebook: Darwis Tere Liye. Hampir semua bukunya sudah saya baca dan menurut pribadi saya sih, karyanya sangat baik. Kritik untuk Novel ini? Gak ada. Beneran deh, saya sudah berusaha mikir keras gak ada. Kurang tebal? Ah cukup. Klise? Ah nggak. Cocoklah dengan selera saya: klasik romantis. Sedaap.... Dan Apakah Borno bertemu Mei? Mengapa Ayah Mei galak sekali dan mengancam Borno untuk tidak menemui Mei lagi? Akankah Borno tetap menjadi pengemudi sepit? Apakah angpau merah itu hanya angpau biasa? Selamat mencari jawabannya ya. Jangan terburu-buru membacanya, nikmati saja. Bagi galauers ada petuah bagus untuk Borno juga untuk kalian. “Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kaulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.” Jadi, masalah cinta janganlah terlalu dipusingkan dan jangan dipaksakan. Juga petuah lainnya, Ah cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya, sendiri! Sepakat deh, Pak Tua. Harapan saya, Novel ini akan menyusul untuk dibuat menjadi fim seperti Novel Tere Liye: Hafalan Sholat Delisa yang sudah tayang dan Bidadari-Bidadari Cinta yang katanya akan tayang Desember 2012. Selamat berburu KAdSAM ya!

Monday, March 19, 2012

Alhamdulillah ngeblog lagi!

Setahun setengah aku lupa imel dan password masuk blog ini. Tadi setelah nyoba-nyoba, Alhamdulillah bisa. Ini ngetes posting dari hape. Banyaaak banget yang mau aku ceritakan...

Tuesday, October 05, 2010

MR and MRS PASHA...

and this is...



mr and mrs Pasha....

Wednesday, September 29, 2010